Last Updated on Tuesday, 15 November 2011 10:48 Written by Administrator Tuesday, 15 November 2011 10:35
Oleh: Sunaryo Adhiatmoko
Jumat, 21 Oktober lalu, menginjak hari keempat saya diMogadishu, Somalia. Saya mewakili PPPA Daarul Quran yang sinergi dengan para ulama dari Afrika Selatan. Pagi itu, di kamp pengungsian Dallada, Tarbuunka, lima kilo meter dari Mogadishu yang dihuni 6.000 lebih keluarga. Seorang ibu, dengan jilbab hitam dan raut muka pucat, tergopoh menghampiri. Ia bersimpuh, meratap, dan memecah tangis di hadapan saya.
“Anaknya baru saja meninggal. Ini anaknya yang kedua meninggal dalam bulan ini”, terang Maxamed Cusman, penterjemah saya di Somalia. Perempuan itu, bersama keluarganya datang dari desa di Baydhabo, sekitar 150 km dari Mogadishu yang datang ke kamp dengan berjalan kaki.
“Setiap hari di kamp ini selalu ada yang meninggal”, kata Cusman.
Siapapun yang melihat kehidupan di kamp itu, hatinya pasti remuk. Tak ada yang bisa saya perbuat, kecuali berdoa. Kemudian, deras pulalah air mata ini di hadapan ribuan orang yang lapar menunggu maut di kamp itu.
Tak banyak kata, kematian yang tiap hari terjadi tak memantik orang-orang di kamp untuk terlalu risau. Mereka seakan paham, pada saatnya kematian berikutnya hanya giliran, selama suplai makanan tidak datang ke kamp pengungsian.
Dengan terisak, ibu malang itu, kembali ke tendanya yang terbuat dari ranting-ranting kayu, dengan atap plastik seadanya. Luasnya tak lebih dari 2 x 2 meter yang dibuat mirip payung. Di dalam tenda, jasad bocah laki-laki 10 tahun, menggelepar tanpa nyawa di atas tanah. Tubuhnya kurus, penuh luka cacar yang baunya menyengat.
Masih dengan derai air mata, ia gali tanah di samping tenda. Jenazah bocah itu pun, dikubur apa adanya, tanpa prosesi pemakaman yang layak. Lengkaplah, tragedi kemanusiaan memilukan itu, terpampang di depan mata. Usai dikubur, perempuan paruh baya itu, tertunduk memeluk lutut. Tangisnya tak henti, sampai saya tinggalkan tendanya dengan perasaan terkoyak.
Di sudut tenda yang lain, seorang anak perempuan 12 tahun berbaring lemas di atas tanah, beralas selembar kain lusuh. Tulangnya menyembul, tubuh jangkungnya meranggas tanpa daging. Matanya menatap langit, seakan menanti malaikat penjemput maut datang.
Dalam catatan Maxamed Cusman, ketika para pengungsi itu datang ke kamp, sebagian postur tubuhnya masih cukup bagus. Pada hari-hari berikutnya, setiap tubuh manusia dalam kamp itu akan menyusut, mengering, kemudian berakhir di tanah kamp pengungsian.
“Saya tak tahu kenapa kami mengalami tragedi kelaparan ini”, ungkap Cusman.
“Setiap hari, kami melihat satu per satu di antara kami mmeninggal di Mogadishu. Tak hanya anak-anak, tapi juga dewasa”, Cusman berkaca-kaca. Mogadishu yang tak lebih luas dari Jakarta itu, telah dikepung sekitar 40 kamp pengungsian.
Ikhtiar Kemanusiaan
Somalia, telah membetot perhatian masyarakat dunia. Semua hati tergugah, melihat tiap hari anak manusia meninggal kelaparan. Demikian pula, sebagian masyarakat yang menjadi keluarga besar PPPA Daarul Qur’an menyisihkan sesuap nasinya, untuk dibagi pada masyarakat Somalia. Tanpa mengurangi perhatian, pada sebagian masyarakat Indonesia yang sedang kesulitan.
Pun, kita juga tak boleh menjadi batu, atas peran masyarakat di negara lain yang berduyun-duyun membantu tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, dan tatar kebencanaan lain di Indonesia yang selalu memantik kepedulian dari manusia-manusia di belahan negara lain untuk membantu.
Masak untuk Pengungsi
Menyusuri kamp-kamp di Mogadishu, Somalia, akan banyak gundukan tanah yang mengubur jasad mereka yang tak mampu bertahan melawan lapar. Tidak ada air dan tak ada suplai makanan rutin, masuk ke kamp-kamp pengungsian di Mogadishu. Perang saudara membuat semua makin sulit. Bantuan kemanusiaan, juga tak mudah masuk langsung ke Somalia. Semua orang asing yang masuk Somalia, wajib menyewa tentara bayaran yang tarifnya 200 US Dollar per hari. Tak ada negosiasi untuk keamanan ini, tapi, saya dan rombongan pernah nego nyawa untuk menurunkan tarif.
Dataran somalia memang sedang kering. Masyarakat setempat mengatakan, hujan terakhir tiga tahun lalu. Pertanian menguning, menyisakan debu. Ternak-ternak mati kelaparan dan semua orang meninggalkan rumahnya, menuju Mogadishu atau Kamp pengungsian di Kenya. Ratusan kilo meter jalan ditempuh, sebagian banyak yang meninggal di perjalanan.
Di Somalia, hanya ada sekitar dua daerah yang dialiri sungai, SH/Dhexe dan SH/Hoose. Dari daerah itulah, suplai makanan di Mogadishu. Tapi, itu tak mampu untuk mencukupi jumlah pengungsi yang sudah mencapai jutaan jiwa. Kondisi kamp tak hanya tanpa makanan, tapi juga tanpa medis, dan MCK yang memadai. Jutaan jiwa manusia terpanggang matahari berhari-hari. Mereka terkepung, dalam penjara kelaparan akut dan deru mesiu perang saudara yang meletup tiap saat.
Di Mogadishu, kami punya target 9 hari. Program yang dijalankan, masak dari kamp ke kamp. Ada tiga kamp yang kami suplai kebutuhan makannya untuk jangka satu bulan. Yakni, Kamp Tarbuunka, Kamp Baadle, dan Kamp Thoro-thoro. Setelah 9 hari itu, program pemberian makan dilanjutkan mitra lokal dari Al-Kahfi Welfare Foundation yang bermarkas di Mogadishu. Tak lupa, di setiap kamp kami juga memotong unta, sebagai lauk nya dengan menu nasi kebuli. Menurut masyarakat setempat, daging unta adalah daging nomor satu.
Di Kamp Tarbuunka, saya bertanya pada sebagian pengungsi. “Kapan terakhir kali makan?”. Mereka serentak menjawab, “Empat hari lalu”.
Saya lantas membisu, menunduk malu. Tapi, obat hati yang remuk selama di Mogadishu adalah, saya dan para ulama dari Afrika Selatan, diberi kesempatan masak selezat mungkin. Setelah nasi kebuli dengan daging unta matang, ribuan orang antri untuk dapat jatah makanan. Satu per satu, mereka menadahkan panci, ember, dan kantong plastik. Kami bertatap mata sejenak, mendadak semua bisa tersenyum hari itu.
Saya tahu, senyum itu sesaat. Karena besuk, mereka masih harus bertahan hidup. Sementara sesuap nasi yang kami masak hari itu, hanyalah pelipur perihnya perut dan pedihnya derita kelaparan, untuk beberapa jam saja. Hari ini, saat saya dan rombongan kembali ke rumah, menyantap hidangan bergizi, bercengkerama dengan anak dan istri, mereka dipanggang terik kemarau dan rintihan kelaparan yang diintai maut setiap hari. Maafkan, hanya ini yang bisa kami lakukan. Bad Baadi Somalia(selamatkan Somalia), itu bisik kalian saat kami gontai tinggalkan Mogadishu.
* Penulis adalah Kontributor Seputarbali.com tinggal di Jakarta.
| PASAR KERAJINAN BALI DIPENUHI BARANG LUAR DAERAH Gianyar, 22/5 (Seputarbali.com) - Pasar kerajinan di Bali dipenuhi barang dari luar daerah itu sehingga menjadi ancaman tersendiri bagi pengrajin sete [ ... ] |
PRESTASI INTERNASIONAL MAHASISWANYA HARUMKAN IKIP PGRI BALI Denpasar, 22/5 (Seputarbali.com) - Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan 'PGRI Bali', Drs I Made Suarta, SH,M.Hum, mengatakan, sejumlah mahasis [ ... ] | Kisah Yang Lain: | ||
| Melihat Fauna di Bali Zoo Park Jangan pernah berpikir bahwa wisata di Bali hanya ada pantai dan sejumlah pagelaran budaya yang memikat hati para turis. Karena ternyata di Bali ada sejumlah tempat wisata yang menyajikan wisata f [ ... ] |
Asyiknya Objek Wisata New Kuta Green Park Objek wisata ini baru berumur satu tahun. Akhir bulan Desember 2010 yang lalu Bupati Badung A.A Gde Agung membuka secara resmi Objek Wisata New Kuta Green Park yang terletak di kawasan Bali Pecatu [ ... ] | Obyek Wisata Terkait: | ||
| Ni Pande Putu Etiartini, Dirikan Sekolah Pantai untuk Anak Jalanan Inspirasi, 17/1 (Seputarbali.com) - Belajar bisa di mana saja, tidak harus di dalam ruang-ruang kelas. Seperti yang dilakukan Ni Pande Putu Etiartini ketika merintis pendidikan untuk anak-anak jalanan yang mengais nafkah di kawasan wisata Pantai K [ ... ] |
De Pande, Empu Muda Pewaris Prapen Bali Denpasar, 29/12 (Seputarbali.com) - Made Gd Suardika adalah sosok pemuda Bali (38). Biasa dipanggil De Pande, wajahnya keras, lekuk otot tubuhnya menyembul kekar, sorot matanya tajam dan rambut sepundak. | |
| Komitmen Made Suwita Hijaukan Desa Lebih Denpasar, 20/12 (Seputarbali.com) - Ketika yang lain sibuk berkampanye peduli lingkungan, Mangku Made Suwetha bersama teruna-teruni Desa Pekraman Lebih Kabupaten Gianyar telah bergerak ”bercanda” dengan alam sekitar desanya. | Inspirasi Terkait: | |
| Ani Yudhoyono Enggan Berkomentar Tentang Capres 2014 Jakarta, 22/5 (Seputarbali.com) - Ibu Ani Yudhoyono menolak berkomentar tentang wacana yang dilontarkan oleh sejumlah pihak tentang pencalonan dirinya dalam Pemilihan Presiden 2014. |
| Suryadharma Ali: Pengurus PPP Jangan Tidur Makassar, 21/5 (Seputarbali.com) - Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali minta pengurus partai berlambang ka'bah itu agar "tidak tidur" atau berdiam diri jika ingin memenangkan Pemilu 2014, sehingga harus bekerja keras sebab upaya memperoleh suara semakin ke [ ... ] |
| Berita Politik Terkait: |
| Masyarakat Maroko Cintai Pencak Silat Indonesia London, 22/5 (Seputarbali.com) - Pencak Silat Indonesia yang merupakan warisan budaya leluhur bangsa Indonesia cukup digemari oleh masyarakat Maroko. |
| Berita Terkait: |
| Sayuran Tingkatkan Peluang Selamat Dari Kanker Payudara Chicago, 4/4 (Seputarbali.com) - Perempuan China yang mengonsumsi kubis, brokoli dan sayuran hijau memiliki peningkatan peluang selamat setelah kanker payudara dibandingkan dengan perempuan yang tak m [ ... ] |
| Buah Naga menurunkan kadar kolesterol dan resiko kanker Kesehatan, 22/1 (Seputarbali.com) - Badan Litbang Pertanian Republik Indonesia menyebutkan bahwa buah naga dapat menurunkan kadar kolesterol, penyeimbang gula darah, menguatkan fungsi ginjal dan tulan [ ... ] |
| Kesehatan Terkait: |
| Atasi Telapak Kaki Pecah Dengan Buah Pepaya Buah Pepaya selain enak dikonsumsi, ternyata dalam resep tradisional buah pepaya bisa dimanfaatkan untuk mengatasi telapak kaki pecah: 1. Bakar buah papaya yang masih muda (yang masih kecil-kecil), [ ... ] |
| Tentang Wanita: |
| Pojok Humor: Hati-Hati Dengan Kesabaran Istri Pojok Humor, 29/2 - Seorang suami sangat kagum dengan kesabaran istrinya yg telah mendampinginya selama 25th tanpa sedikit pun bertengkar dan membal [ ... ] |
| Gak Kalah Lucu: |
![]() | Visitors Today | 1248 |
![]() | Visitors Yesterday | 6874 |
![]() | This Week | 21342 |
![]() | Last Week | 55866 |
![]() | This Month | 150810 |
![]() | Last Month | 170793 |
By A Web Design